Senin, 13 Februari 2017

Alam Semesta dan Teori Penciptaannya


Pengetahuan tentang proses penciptaan alam semesta tentu sudah didapat pada saat           endidikan sekolah dasar sampai pada sekolah lanjutan tingkat pertama atau sekolah menengah 
ertama namun banyaknya perkembangan penemuan - penemuan terbaru yang di temukan oleh        ara ahli mengenai alam semesta dan penciptaannya pada sekarang ini semestinya juga mendapat enambahan dan pengembangan khazanah ilmu pengetahuan kita tentang alam semesta di samping engetahuan yang telah ada.

Alam semesta merupakan hamparan luas yang kemungkinan tidak terbatas tepinya yang berada di luar angkasa yang semua itu mengandung misteri yang tidak dapat diketahui terdidri dari triliunan bintang dan benda-benda langit lainnya,bintang-bintang ini bergerak saling menjauh satu sama lain dan mempunyai ukuran yang berbeda-beda serta berkelompok membentuk berbagai macam galaksi terbentuknya alam semesta beragam asumsi,penelitian,nalar dan uji logika di kalangan para ahli astronomi.


Terdapat berbagai macam terori yang dikemukakan oleh para ahli dalam proses terjadinya alam semesta ini dan salah satunya adalah teori big bang atau teori ledakan besar,menurut teori tersebut alam semesta berasal dari sebuah ledakan besar pada 13,7 milyar tahun yang lalu dari suatu benda yang maha padat dan maha panas yang muncul dari adanya reaksi inti,material yang terhempas dengan sangat cepat menjauhi pusat ledakan yang kemudian berevolusi menjadi berbagai bintang dan berkelompok dalam berbagai galaksi sebagai contoh sebut saja galaksi bima sakti yang disana bumi tempat kita menetap berada dan galaksi andromeda yang termasuk galaksi dengan jarak terdekat dengan bumi.



                       Gambar: Proses penciptaan alam semesta menurut teori ledakan maha dahsyat


Galaksi bima sakti dalam bahasa inggris disebut dengan Milky Way yang berasal dari bahasa latin dengan sebutan Via Lactea adalah galaksi spiral yang besar dan tersusun oleh lebih dari 200 Milyar bintang yang didalamnya terdapat sistem tata surya yang terdiri dari matahari dan planet-planet lainnya,jarak antara matahari dengan pusat galaksi sekitar 27.700 tahun cahaya dan di dalam galaksi  inilah rumah dari bumi yang disana kita tinggal. Sedangkan galaksi andromeda terdiri dari sekitar 1 trilliun bintang dan merupakan galaksi yang terdekat dengan bumi berjarak kurang lebih 2.5 juta tahun cahaya dapat dilihat dengan mata tanpa menggunakan teleskop sekalipun di belahan langit bagian utara pada malam hari yang cerah tanpa bulan sekitar bulan September,Oktober,dan November.


Proses penciptaan tata surya menurut ilmu pengetahuan



                          Gambar: Tata Surya


Terdapat berbagai teori yang dikemukakan oleh para ahli astronomi yang dapat disimpulkan melalui  berbagai hasil pengamatan dan pengujian mengenai bagaimana sebenarnya penciptaan tata surya dan bagaimana berproses sejak zaman dahulu hingga sekarang, umat manusia dengan rasa keingintahuan yang besar selalu  berusaha untuk memahami tentang alam semesta ini dan bagaimana proses terciptanya dan dengan rasa ingin tahu tersebut sekarang ilmu pengetahuan tentang pembentukan tata surya mulai di ketahui, berikut adalah pembahasan lengkap mengenai teori-teori tersebut:



Teori kabut (Nebula)


Berdasarkan teori kabut yang dikemukakan oleh Immanuel Kant (1755) dan Pierce Simon de Laplace (1796) yang kemudian dikenal dengan teori Kant-Laplace bahwa tata surya berasal dari kabut raksasa yang terdiri dari partikel padat dan gas dengan temperatur yang sangat panas dan berpilin atau berputar pada porosnya,bagian terluar dari nebula tersebut terlempar keluar dan terpisah kemudian menggumpal membentuk sejumlah planet yang salah satunya adalah bumi sementara planet lainnya seperti yang sebagaimana yang sudah diketahui yaitu Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus,Neptunus dan pluto. Pada tahun 2006 para ahli menyatakan bahwa pluto tidak termasuk dalam bagian planet yan terdapat dalam tata surya atau susunan matahari karena garis edarnya ternyata sangat berbeda dengan planet-planet lainnya



                        Gambar: Proses terjadinya penciptaan tata surya menurut teori nebula




Teori Planetisimal


Teori ini menyatakan bahwa suatu ketika sebuah bintang melintasi ruang angkasa dengan cepat dan berada dekat sekali dengan matahari, tingkat daya tarik bintang ini sangat besar sehingga menyebabkan daya pasang di bagian gas matahari,akibatnya massa gas terlempar dari matahari dan mulai mengorbit, karena daya tarik matahari massa gas itu tertahan dan bergerak mengelilingi matahari ketika massa gas menjadi dingin bentuknya kemudian berubah menjadi cairan kemudian memadat hingga akhirnya massa gas itu menjadi planet yang ada sekarang dan salah satunya yang termasuk adalah bumi. Teori ini dicetuskan oleh seorang astronom bernama Forest Ray Moulton dan seorang geolog bernama Thomas C. Chamberlin dari universitas chicago


Teori Bintang Kembar




Gambar: 1 dan 2 Proses terciptanya tata surya menurut teori bintang kembar


Teori ini dikemukakan oleh seorang ahli astronomi inggris bernama Lyttleton sekitar tahun 1930-an teori ini menyatakan bahwa pada awal mulanya terdapat dua buah matahari kembar yang saling mengelilingi,kemudian melintaslah sebuah bintang dan menabrak salah satu matahari tadi matahari yang tertabrak ini kemudian meledak menjadi materi-materi kecil yang terus berputar mengelilingi matahari yang masih utuh materi-materi kecil tadi kemudian mendingin dan menjadi planet.



Teori Kondensasi


Teori ini menyatakan bahwa sistem tata surya pada pertama sekali merupakan bola kabut raksasa dan di dalam kabut itu terdapat material-material seperti debu, es, dan gas yang berotasi sehingga bagian yang ringan dengan mudah terlempar ke luar sedangkan bagian yang berat berkumpul di pusatnya,semakin lama bola kabut ini membentuk sebuah cakram yang perputarannya pun semakin cepat dan suhunya semakin bertambah. Akhirnya cakram tersebut kembali berbentuk bola gas yang cukup solid hingga terbentuklah matahari dan bagian tepi cakram yang berupa gas serta debu mulai bertarikan dan membentuk suatu gumpalan,selanjutnya gumpalan tersebut terlepas dari matahari dan menyebar ke sekitarnya gumpalan-gumpalan itu disebut protoplanet, protoplanet seiring berjalannya waktu semakin dingin dan padat sehingga terbentuklah planet. Protoplanet  tetap berotasi di orbitnya dan sambil berotasi juga berevolusi mengelilingi matahari teori kondensasi ini di kemukakan oleh seorang astronom belanda yang bernama G.P. Kuiper pada tahun 1950.



Teori Pasang Surut Bintang atau Teori Tidal



                        Gambar: Proses penciptaan tata surya menurut teori pasang surut bintang



Teori ini pertama kali dinyatakan oleh Buffon (1707-1788) menurutnya tata surya berasal dari materi matahari yang terlempar setelah bertabrakan dengan komet, teori ini kemudian diperbaiki oleh James jeans dan Harold jeffreys pada tahun 1919 menurut mereka tata surya terbentuk dari sebuah matahari yang di lintasi oleh bintang yang sangat dekat lalu dikarenakan pengaruh gaya gravitasi yang besar, sebagian massa matahari tertarik ke arah bintang hingga membentuk seperti cerutu panjang dan terdapat bagian besar pada tengah cerutu, sedangkan bagian ujung dan pangkalnya memiliki bagian yang kecil, setelah bintang tersebut pergi cerutu terus berputar mengelilingi matahari dan seiring berjalannya waktu cerutu tersebut mendingin dan membentuk sebuah lingkaran yang menjadi planet. Sedangkan matahari awal tetap menjadi matahari,teori pasang surut memiliki beberapa kesamaan dengan teori platesimal.



Proses penciptaan bumi menurut ilmu pengetahuan



                                Gambar: Bentuk awal bumi masih merupakan pijar


Proses penciptaan bumi berkaitan erat dengan penciptaan alam semesta dan tata surya,bumi berasal dari partikel padat dan gas yang berpilin dengan suhu yang sangat panas karena gaya elektro statis  banyak partikel padat dan gas dari nebula yang terlempar keluar saling menempel satu sama lain,semakin lama jumlah dari partikel-partikel yang menempel tersebut semakin banyak dan begitu pula denga ukurannya yang juga semakin membesar kemudian menjadi butiran,butiran-butiran tersebut saling bertabrakan dan menempel satu sama lainnya hingga membentuk sebuah bongkahan batu.

Apabila bongkahan batu tersebut saling bertabrakan maka dampaknya dapat menimbulkan panas dan batuan tersebut juga saling menempel hingga terbentuk batuan yang lebih besar,batuan tersebut menjadi besar karena adanya gaya gravitasi sehingga menarik batuan yang lain disekitarnya yang akhirnya membentuk planet bumi. Panas yang muncul dari tabrakan tersebut tetap tersimpan didalam perut bumi berupa massa cair pijar dan sangat panas yang disebut dengan magma,sebagian butiran dan bongkahan batu tersebut ada yang masih tersisa hingga sekarang dan membentuk sebuah sabuk diluar angkasa yang dinamakan asteroid,apabila batuan dari asteroid oleh gaya gravitasi dan jatuh ke bumi disebut dengan meteorit.



                                Gambar: Bumi saat ini


Pada awal pembentukan kulit bumi terjadi pembekuan mineral dengan titik beku yang tinggi yang bersifat ultra basa,batuan ini menjadi kerak samudera (Silikat Magnesium). Seiring dengan terjadinya pendinginan pada bumi proses pendinginan pada mineral menjadi menurun pada titik beku yang rendah yang terdiri dari mineral yang lebih ringan yang bersifat asam,batuan ini menerobos keatas menjadi kerak samudera (Silikat Alumunium) oleh karena itu secara vertikal kulit bumi yang terdiri dari kerak samudera yang relatif lebih berat berada dibagian bawah dan kerak bumi yang relatif lebih ringan berada di bagian atas.



Baca juga: NASA sedang kembangkan desain robot untuk memeriksa asteroid


      
Bumi sendiri menyimpan energi pada intinya,energi ini menimbulkan pancaran panas yang menyebabkan terjadinya arus yang ada didalam magma yang disebut arus konveksi, arus ini mempengaruhi kerak bumi di atasnya sehingga kerak bumi sehingga kerak bumi turut bergerak secara horizontal searah dengan arus tersebut. Karena arah arus konveksi berbeda-beda maka kulit bumi yang turut bergerak pun menjadi berbeda-beda arahnya sehingga kulit bumi terkoyak menjadi beberapa lempeng,tenaga yang ditimbulkan oleh arus konveksi inilah yang disebut tenaga tektonik. Akibat dari tenaga tektonik ini kulit bumi terus bergerak secara horizontal rata-rata 7 cm per tahun dengan arah yang berbeda-beda.   


                                
                                Gambar: Struktur lapisan bumi



Meski pergeseran kulit bumi hanya 7 cm per tahun namun proses yang telah terjadi selama ratusan juta bahkan milyaran tahun telah menyebabkan pergerakan kulit bumi ribuan bahkan puluhan ribu kilometer,dalam pergerakannya tersebut kulit bumi mengalami perlipatan,patahan,retakan,bahkan pengangkatan yang terjadi bersama proses erosi. Berdasarkan proses geodinamika tersebut dengan didukung berbagai data lainnya yang telah melalui tahap uji coba maka para ahli geologi berpendapat bahwa bentuk permukaan bumi mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
  


                                    Gambar: Perubahan bentuk bumi karena tenaga tektonik



Demikianlah penjelasan yang dapat penulis sajikan pada pembahasan ini semoga memiliki kandungan manfaat dan berguna, bagaimanapun alam semesta merupakan sesuatu yang teramat besar untuk diketahui secara keseluruhan karena merupakan ciptaan dari sang Maha Pencipta dan hanya Dia sendirilah yang mengetahui,namun tidak menutup kemungkinan suatu saat sebagian besar misteri penciptaan alam semesta dapat ditemukan dan diselesaikan oleh umat manusia maka dari itu tetap kunjungi Kanaha untuk informasi-informasi yang bermanfaat demikianlah sajian kali ini penulis tutup dan akhiri.



Sumber:    1. Berbagai sumber
                 2. kreativitas-alam.blogspot.co.id
                 3. mahadua.wordpress.com
                 4. Wikipedia








ARTKEL TERKAIT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar